Hanjeli, Pangan Warisan Nenek Moyang yang Siap Jadi Pangan Masa Depan
Maros, (3/6) – Di tengah tren gaya hidup sehat dan diversifikasi pangan ini, nama hanjeli atau jali mungkin terdengar asing di telinga generasi masa kini. Padahal, tanaman serealia ini bukan komoditas baru. Hanjeli (Coix lacryma-jobi L.) merupakan pangan lokal berharga yang telah dikembangkan sejak lama di Indonesia dan dikonsumsi oleh nenek moyang kita secara turun-temurun.
Nenek moyang kita dahulu memanfaatkan tanaman setinggi 1–2 meter ini bukan sekadar sebagai sumber karbohidrat, melainkan juga sebagai tanaman obat dan pangan fungsional.
Simbol Kebersamaan Warga
Jejak sejarah hanjeli sebagai bagian dari kearifan lokal Nusantara terekam kuat salah satunya oleh masyarakat Betawi. Tempo dulu, tanaman berbiji oval keras ini sangat mudah dijumpai di pekarangan rumah warga.
Masyarakat Betawi mengolah biji jali menjadi sajian tradisional berupa Bubur Jali yang memiliki makna sosial mendalam. Pada zaman dulu, proses pembuatan bubur bertekstur kenyal dan gurih ini sering dilakukan secara gotong royong oleh para ibu, menjadikannya simbol keakraban dan kebersamaan. Selain itu, bubur jali juga menjadi hidangan berbuka puasa favorit yang andal untuk memulihkan kebugaran tubuh.
Sumber Pangan Kaya Nutrisi
Mengapa leluhur kita begitu menggemari hanjeli? Jawabannya terletak pada kandungan gizinya yang luar biasa. Berdasarkan data Kementerian Kesehatan, kandungan nutrisi hanjeli tidak kalah dengan beras, jagung, maupun sorgum. Tanaman ini kaya akan energi, karbohidrat (58–65%), serta memiliki kadar protein yang jauh lebih tinggi (11–20%) dibandingkan serealia lain.
Biji hanjeli mengandung zat aktif seperti coixol, coixenolide, vitamin E, serta asam amino esensial (leusin, tirosin, lisine, asam glutamat). Kombinasi nutrisi ini membuatnya berkhasiat sebagai peluruh air seni, antitumor/antikanker, serta berpotensi besar menjadi sumber pangan alternatif pengganti beras dan gandum.
Keunggulan lainnya, tanaman purba ini sangat tangguh karena dapat tumbuh subur di lahan marjinal yang kurang subur maupun di dataran tinggi hingga 1.000 dpl tanpa harus berebut lahan dengan padi atau jagung.
Dari Lahan Pagar ke Pasar Digital
Jika dulu nenek moyang kita menanam hanjeli sekadar sebagai tanaman pagar atau tanaman sisipan (tumpang sari), kini komoditas ini naik kelas berkat sentuhan teknologi modern. Badan Perakitan dan Modernisasi Pertanian (BRMP) telah sukses mengintroduksi budi daya hanjeli secara lebih luas, salah satunya di wilayah Desa Sukajadi, Kecamatan Wado, Kabupaten Sumedang, Jawa Barat.
Melalui dukungan Balai Besar Perakitan dan Modernisasi Pascapanen Pertanian yang memperkenalkan teknologi pengolahan metode basah, biji hanjeli kini tidak lagi hanya berakhir menjadi bubur konvensional. Kelompok Wanita Tani (KWT) Pantastik di Sumedang contohnya, mereka berhasil melakukan hilirisasi dengan menyulap hanjeli menjadi aneka makanan siap saji premium, seperti:
- Nasi hanjeli dan nasi liwet
- Sereal instant (Serli)
- Kue kering (cookies), brownies, dan yogurt
- Camilan tradisional kekinian seperti opak, rengginang, kerupuk, dan teng-teng hanjeli
Dengan kemasan yang keren, kekinian, dan layak edar, produk warisan leluhur ini sekarang mulai didorong ke pasar digital melalui pemasaran daring yang digerakkan oleh generasi muda. Menghidupkan kembali hanjeli bukan sekadar romantisasi kuliner masa lalu, melainkan langkah cerdas dalam mengamankan kedaulatan pangan masa depan Indonesia.
Terima kasih telah membaca artikel kami. Kami ingin mengajak Anda untuk terus menjelajahi dan memperdalam pengetahuan Anda. Temukan berita terbaru dan artikel bermanfaat dengan mengklik tautan berikut "Klik di sini".
Jurnalis: Muchammad Fatchur Rizza