Kementan Pacu PM AAS untuk Lipat Gandakan Produksi Padi di Papua
Merauke, (6/7) – Langkah strategis untuk menyulap Merauke, Papua Selatan, menjadi lumbung pangan modern masa depan kian dipacu. Menteri Pertanian (Mentan) Andi Amran Sulaiman terus mempercepat transformasi agraria di wilayah ini lewat implementasi sistem Pertanian Modern Advanced Agriculture System (PM AAS).
Metode budidaya mutakhir yang memadukan mekanisasi total, penggunaan varietas unggul spesifik lokasi, pola tanam baru, serta pendampingan intensif ini diyakini mampu menjadi pengungkit utama produktivitas sekaligus melejitkan kesejahteraan petani di bumi Papua.
Saat memimpin gerakan tanam padi bersama para petani di Kampung Waninggap Kai, Distrik Semangga, Kabupaten Merauke, Sabtu (4/7), Mentan Amran mendorong adopsi PM-AAS secara masif karena kemampuannya meningkatkan produksi padi hingga dua kali lipat.
"Produksinya bisa naik dua kali lipat. PM-AAS ini adalah kombinasi cermat antara metode Amerika, Indonesia, dan China yang kami teliti langsung di lapangan. Hasilnya bisa menyentuh 10 hingga 12 ton per hektare," ungkap Mentan Amran optimis.
Mentan menambahkan bahwa lonjakan produktivitas dan indeks pertanaman (IP) dalam setahun ini akan langsung berdampak pada isi dompet petani. Program PM-AAS ini diproyeksikan berjalan beriringan dengan program cetak sawah rakyat dan optimasi lahan rawa guna memperkokoh benteng pertahanan pangan nasional di kawasan timur Indonesia.
Populasi Padat dan Formula Spesifik Lokasi
Kepala Badan Perakitan dan Modernisasi Pertanian (BRMP), Fadjry Djufry, menjelaskan bahwa PM-AAS merupakan buah dari riset mendalam Kementerian Pertanian selama dua tahun terakhir setelah mengadopsi berbagai praktik cerdas dari sejumlah negara maju. Konsep global tersebut kemudian diselaraskan secara pas dengan agroekosistem lokal, termasuk karakteristik lahan rawa pasang surut di Merauke.
Fadjry memaparkan, pembeda utama PM-AAS dengan budidaya konvensional terletak pada sistem Tanam Benih Langsung (Tabela) dengan jarak tanam yang jauh lebih rapat.
- Metode Konvensional (Tanam Pindah) hanya menampung populasi sekitar 250 ribu hingga 600 ribu rumpun per hektare.
- Metode PM AAS mampu mendongkrak kerapatan populasi secara drastis hingga 800 ribu sampai 1 juta tanaman per hektare.
”Dengan populasi yang naik dua kali lipat, sangat rasional jika produksinya ikut double, asalkan kebutuhan hara dan kecukupan pupuknya terpenuhi dengan baik,” jelas Fadjry.
Untuk wilayah Merauke yang memiliki karakteristik lahan pasang surut tipe C dan tergolong daerah endemik tungro, BRMP merekomendasikan penggunaan varietas spesifik seperti Inpari 37 yang terbukti lebih toleran terhadap intervensi air asin dan hama tungro.
Teknologi Canggih tapi Murah: Drone hingga Drum Seeder
Dari sisi mekanisasi, PM-AAS menawarkan fleksibilitas tinggi bagi kelompok tani. Pada lahan hamparan luas, penyebaran benih dan penyemprotan dapat memanfaatkan teknologi drone. Sementara untuk wilayah yang baru beradaptasi, petani dapat menggunakan alat sederhana berupa drum seeder (paralon penanam).
Penggunaan drum seeder ini terbukti memangkas ongkos kerja secara ekstrem. Di Papua, biaya tanam yang menggunakan metode ini hanya berkisar Rp600 ribu per hektare, jauh lebih hemat dibandingkan daerah lain di Indonesia yang bisa ditekan hingga Rp400 ribu per hektare.
Petani Merauke Mulai Rasakan Efisiensi dan Pangkas Biaya
Manfaat nyata dari efisiensi biaya dan waktu ini diakui langsung oleh para petani Merauke yang telah beralih ke sistem PM-AAS:
- Abdul Rohim (Petani Kampung Candarajaya, Distrik Kurik): Mengaku proses tanam dengan drum seeder jauh lebih efisien dibandingkan metode tanam pindah manual. "Dulu biaya tanam bisa mencapai Rp3 juta per hektare, sekarang pakai cara baru ini cukup Rp600 ribu saja. Kami bisa hemat biaya hingga Rp2,4 juta per hektare! Pertumbuhan tanaman juga terlihat lebih seragam dan anakannya lebih banyak," tuturnya senang.
- Angga Dwi Hadianto (Petani Merauke): Merasa sangat terbantu dengan hadirnya teknologi udara. "Kami lebih hemat tenaga karena penyemprotan dibantu menggunakan drone. Pertumbuhannya sudah terlihat jauh lebih bagus dibanding cara lama, dan kami semua di sini sangat optimistis hasil panen nanti akan jauh meningkat."
Tahun ini, Kementerian Pertanian menargetkan perluasan implementasi PM-AAS hingga mencapai satu juta hektare di seluruh Indonesia. Keberhasilan pilot project di Merauke diharapkan menjadi pemantik utama bagi daerah-daerah lain untuk segera bermigrasi ke sistem pertanian modern demi kedaulatan pangan yang mandiri dan berkelanjutan.
Terima kasih telah membaca artikel kami. Kami ingin mengajak Anda untuk terus menjelajahi dan memperdalam pengetahuan Anda. Temukan berita terbaru dan artikel bermanfaat dengan mengklik tautan berikut "Klik di sini".
Artikel ini ditulis ulang berdasarkan rilis pada Kementerian Pertanian berjudul "Mentan Amran Tingkatkan Produktivitas Pertanian Merauke Lewat PM AAS".