PENAS XVII Jadi Momentum Emas Modernisasi dan Solusi Pangan Nasional
Gorontalo, (20/6) – Perhelatan akbar Pekan Nasional (PENAS) Petani Nelayan XVII resmi dibuka di Gorontalo oleh Wakil Presiden Republik Indonesia Gibran Rakabuming Raka. Ajang silaturahmi petani nelayan tersebut dihadiri sekitar 13.000 peserta dari berbagai penjuru tanah air. Di balik kemeriahan acara dan antusiasme peserta tersimpan misi besar untuk mengurai berbagai persoalan yang dihadapi petani dan nelayan pada keseharian.
Kementerian Pertanian (Kementan) telah mencatatkan berbagai capaian kinerja yang membanggakan. Mulai dari stok pangan nasional yang menyentuh angka 5,2 juta ton hingga lompatan Nilai Tukar Petani (NTP) yang mencapai 127 poin. Meski demikian, pemerintah senantiasa berupaya menjawab berbagai persoalan dan hambatan teknis di lapangan demi keberlanjutan swasembada pangan.
"Pak Wapres, kami laporkan juga stok pangan kita hari ini 5,2 juta ton tertinggi selama republik ini berdiri. Dan juga NTP nilai tukar petani, kesejahteraan petani kita naik tertinggi selama 34 tahun, tertinggi yaitu 127%,” jelas Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman.
Mendengar Aspirasi Petani dan Nelayan
Pada pembukaan PENAS Petani Nelayan XVII Wapres Gibran membuka sesi dialog, perwakilan petani dan nelayan dari berbagai provinsi diberi kesempatan untuk menyuarakan keadaan di lapangan secara jujur dan lugas.
"Kendala utama yang kami hadapi di lapangan saat ini adalah keterbatasan alat pengolah lahan, seperti traktor roda empat (jonder) dan traktor tangan (kutaktor)," ujar Septinus Menahing Wariki, perwakilan petani dari Kabupaten Manokwari, Papua Barat.
Berbagai isu pertanian, perikanan, dan kelautan seperti kerusakan infrastruktur irigasi, kendala permodalan, alat mesin pertanian, hingga tantangan lingkungan akibat aktivitas tambang menjadi keluhan yang membutuhkan penanganan cepat. Menanggapi hal tersebut, pemerintah secara tegas akan menjawab persoalan petani dan nelayan secara tepat dan cermat.
"Pemerintah, dengan leading sector Kementan dan KKP, akan terus mengawal agar Indonesia dapat mewujudkan kemandirian pangan, meningkatkan kesejahteraan para petani dan nelayan, serta mencarikan solusi atas permasalahan yang dihadapi di lapangan," pungkas Wapres Gibran mengakhiri sesi dialog.
Momentum PENAS Petani Nelayan XVII membuktikan bahwa kemandirian pangan tidak dapat dicapai hanya dengan regulasi, melainkan memerlukan eksekusi nyata atas keluhan petani dan nelayan di lapangan. Pada gelaran tersebut terdapat sejumlah kegiatan seperti gelar teknologi, pameran agribrisnis dan pembangunan pertanian, temu karya dan wawasan agribisnis, berbagai macam kontes dan edukasi pertanian.
Mari sukseskan Pekan Nasional (PENAS) Petani Nelayan XVII di Limboto, Gorontalo pada 20–25 Juni 2026.
Terima kasih telah membaca artikel kami. Kami ingin mengajak Anda untuk terus menjelajahi dan memperdalam pengetahuan Anda. Temukan berita terbaru dan artikel bermanfaat dengan mengklik tautan berikut "Klik di sini".
Reporter: Muchammad Fatchur Rizza