Analisis Global: Tantangan Rendahnya Profitabilitas Jagung dalam Dekade Mendatang
Iowa, AS, (2/2) – Para ahli pertanian di Iowa, Amerika Serikat, memprediksi periode sulit bagi petani jagung dalam sepuluh tahun ke depan. Laporan Corn Impact Study yang dirilis baru-baru ini menunjukkan adanya kesenjangan (gap) antara lonjakan produksi jagung yang mencapai rekor dengan penurunan permintaan konsumen secara global.
Pada tahun 2025, Iowa mencatat rekor produksi sebesar 2,77 miliar gantang (bushel). Namun, melimpahnya pasokan ini justru menekan harga di pasar hingga ke titik impas (break-even point).
Kesenjangan Pasokan dan Tekanan Harga
Produsen jagung setempat, Steve Swenka, menjelaskan bahwa besarnya volume jagung yang masuk ke pasar mengharuskan petani mencari saluran penyerapan baru agar komoditas tersebut dapat terjual dengan tetap menghasilkan keuntungan. Ia menambahkan bahwa meski petani terbiasa dengan fluktuasi harga, kondisi rendahnya profitabilitas yang diprediksi bertahan hingga sepuluh tahun akan sangat memberatkan, karena petani umumnya hanya mampu bertahan tanpa laba selama satu atau dua tahun saja.
"That's just a tremendous amount of corn to hit the marketplace that you have to find a home for. Naturally, that puts a lot of pressure on the marketplace to try to get those bushels accounted for and sold and at a profit," ungkap Swanka dalam bahasa Inggris.
Data menunjukkan harga jagung di Iowa merosot tajam dari $6,86 per gantang pada 2022 menjadi hanya sekitar $3,94 pada awal Februari 2026. Angka ini berada di bawah biaya operasional rata-rata petani yang berkisar di angka $4 per gantang. Menurut Swenka, titik impas tersebut hanya cukup untuk menutup biaya produksi, namun tidak cukup untuk membayar cicilan properti maupun kebutuhan hidup sehari-hari.
Dampak Sistemik dan Regenerasi Petani
Rendahnya keuntungan di sektor hulu mulai memicu efek domino, termasuk pengurangan tenaga kerja di industri alat mesin pertanian (alsintan) global. Aaron Lehman, Presiden Iowa Farmers Union, menekankan bahwa penyelesaian masalah ini sangat krusial agar pertanian skala kecil dan menengah memiliki ketahanan ekonomi. Tanpa ketangguhan tersebut, sektor pertanian akan kesulitan menarik minat generasi muda untuk menjadi petani.
""We need to be thinking about how to diversify and create markets and policies that encourage production and things that we can earn money on other than just one commodity. Growing more and more of something we are already losing money at doesn't make sense in the big picture," ujar Lehman dalam bahasa Inggris.
Strategi Solusi: E15 dan Diversifikasi Komoditas
Untuk mengatasi surplus produksi, para ahli mendorong beberapa langkah strategis:
-
Optimalisasi Bioetanol: Ryan Drollette dari Iowa State Extension berpendapat bahwa pemberlakuan penggunaan bahan bakar E15 (campuran etanol 15%) sepanjang tahun secara nasional dapat mendongkrak permintaan jagung, mengingat potensi pasar ekspor saat ini cenderung terbatas.
-
Diversifikasi Tanaman: Aaron Lehman menyarankan petani untuk mulai mendiversifikasi komoditas di luar jagung dan kedelai. Ia menegaskan bahwa terus-menerus meningkatkan produksi pada komoditas yang secara ekonomi sudah merugi merupakan langkah yang tidak masuk akal dalam skala besar.
-
Keberlanjutan Produksi: Penggunaan pupuk yang masif untuk mengejar target hasil tinggi mulai dipertanyakan keberlanjutannya (sustainability) di tengah harga pasar yang tidak menentu.
Terima kasih telah membaca artikel kami. Kami ingin mengajak Anda untuk terus menjelajahi dan memperdalam pengetahuan Anda. Temukan berita terbaru dan artikel bermanfaat dengan mengklik tautan berikut "Klik di sini".
Artikel ini bersumber pada The Daily Iowan