Ancaman Krisis Pupuk dan El Nino Bayangi Produksi Pangan Asia Tenggara 2026/2027
Maros, (27/3) – Laporan terbaru dari BMI, unit riset Fitch Solutions, memperingatkan adanya peningkatan risiko penurunan produksi pangan di kawasan Asia Tenggara untuk musim tanam 2026/2027. Risiko ini muncul akibat potensi pengurangan takaran pemupukan yang dipicu oleh lonjakan harga pupuk nitrogen dan ketergantungan pada impor fosfat di tengah ketidakpastian cuaca.
Lonjakan Harga Pupuk Nitrogen Akibat Geopolitik
Sejak eskalasi konflik di Timur Tengah pada akhir Februari, harga urea global tercatat mengalami kenaikan tajam. Indeks spot urea granular di AS melonjak hingga 40,4% per 20 Maret, mencapai angka US$660 per ton. Kenaikan ini mencerminkan kekhawatiran akan pengetatan pasokan global, terutama dari kawasan Teluk yang menyumbang sekitar 20% ekspor pupuk nitrogen dunia serta memasok sebagian besar gas alam untuk produksinya.
Tingginya harga pupuk berbasis nitrogen dapat memicu penggunaan nutrisi tanaman yang kurang optimal oleh petani, sehingga meningkatkan risiko penurunan hasil panen pada musim mendatang.
Ketahanan Indonesia dan Negara Tetangga
BMI mencatat bahwa Indonesia, Malaysia, dan Vietnam merupakan negara-negara yang relatif lebih terlindung dari krisis nitrogen berkat kapasitas produksi domestik yang kuat. Namun, efektivitas perlindungan ini sangat bergantung pada kebijakan pemerintah dalam memprioritaskan pasokan dalam negeri dibandingkan peluang ekspor yang menarik secara ekonomi.
Di sisi lain, seluruh kawasan Asia Tenggara dinilai tetap rentan terhadap kendala pasokan pupuk fosfat karena tingginya ketergantungan pada input impor. Kenaikan biaya logistik dan transportasi akibat ketatnya pasokan global diprediksi akan terus menekan pasar domestik di kawasan ini.
Risiko Fenomena El Niño
Selain persoalan pupuk, sektor pertanian di Asia Tenggara juga menghadapi tantangan iklim yang serius. Pusat Prediksi Iklim menetapkan probabilitas lebih dari 60% bahwa fenomena El Niño akan muncul mulai Juni 2026. Dengan peluang 48% mencapai intensitas sedang pada Agustus, fenomena ini berpotensi mengganggu periode kritis perkembangan tanaman pangan secara luas di seluruh kawasan.
BMI menekankan bahwa kombinasi antara biaya input yang tinggi dan risiko cuaca ekstrem akan menciptakan tekanan ganda bagi ketahanan pangan Asia Tenggara pada periode 2026/2027.
Terima kasih telah membaca artikel kami. Kami ingin mengajak Anda untuk terus menjelajahi dan memperdalam pengetahuan Anda. Temukan berita terbaru dan artikel bermanfaat dengan mengklik tautan berikut "Klik di sini".
Artikel ini diterjemahkan dan ditulis ulang berdasarkan rilis pada The Edge of Malaysia