Gerakan Tanam PM AAS Di Kelurahan Kapasa Raya, Dukung Swasembada Pangan Di Kota Makassar
Maros, (2/11) Kementerian Pertanian terus mendorong peningkatan produktivitas pertanian melalui penerapan teknologi budidaya padi, penguatan pendampingan petani, serta optimalisasi pemanfaatan lahan pertanian. Upaya ini menjadi bagian dari langkah strategis dalam mewujudkan swasembada pangan nasional.
Salah satu upaya yang terus didorong adalah penerapan Metode PM-AAS sebagai pendekatan dalam mendukung peningkatan produktivitas tanaman padi. Sabtu, 31 Oktober 2026 Gerakan Tanam Metode PM-AAS turut dilaksanakan di Kelurahan Kapasa Raya, Kecamatan Tamalanrea, Kota Makassar, Sulawesi Selatan.
Lurah Kapasa raya, M. Fitrah Ramadhan menyampaikan apresiasi atas fasilitasi Kementerian Pertanian melalui BRMP Serealia yang telah memberikan manfaat yang dapat diterapkan oleh kelompok tani di wilayah Kapasa Raya. M. Fitrah menyebutkan bahwa Kelompok Tani (KT) Balinonjeng dan Batudoang termasuk kelompok yang sangat aktif melaporkan kegiatan pertanian yang dilaksanakan sehingga perkembangan dan objek kegiatan dapat dipantau dengan baik. Hal ini merupakan salah satu pondasi penting dalam mendukung ketahanan pangan. Oleh karena itu, M. Fitrah berharap program yang telah berjalan dapat terus dilanjutkan dan ditingkatkan agar manfaatnya semakin dirasakan oleh masyarakat.
Sementara itu, Kepala BRMP Serealia, Sarjoni dalam sambutannya menegaskan bahwa penanaman metode Tanam Benih Langsung (Tabela) telah dilakukan sejak dahulu, dioptimalkan dengan metode terbarukan yaitu PM AAS melalui pengaturan jarak tanam, serta pemanfaatan teknologi yang dapat meningkatkan hasil produksi.
Metode PM AAS merupakan perkembangan dari hasil kunjungan kerja Menteri Pertanian di Arkansas, Amerika Serikat yang menyesuaikan teknologi budidaya dengan kondisi lahan di Indonesia. Melalui pengaturan populasi tanaman, yang sebelumnya ±300 ribu menjadi ±800 ribu hingga 1 juta rumpun per hektar, diharapkan produktivitas dapat meningkat secara signifikan.
Metode ini telah dikaji sejak tahun 2025 sebagai bagian dari upaya meningkatkan produktivitas pertanian. Keberhasilannya membutuhkan sinergi dan keterlibatan berbagai pihak, petani, dukungan penyuluh, serta sinergi pemerintah. Setiap pihak memiliki tugas dan tanggung jawab dalam mengawal pembangunan sektor pertanian, khususnya untuk mewujudkan swasembada pangan.
Program PM AAS diharapkan dapat diterapkan di seluruh wilayah yang memiliki dukungan jaringan irigasi yang baik. Target produktivitas yang didorong minimal 10 ton per hektar, dengan capaian rata-rata di sejumlah provinsi bahkan telah berada di atas angka tersebut.
Lebih lanjut, Sarjoni juga menekankan pentingnya peran pendamping pertanian dalam membantu petani menyelesaikan berbagai persoalan di lapangan. Penyuluh diharapkan aktif mendampingi petani, mulai dari proses budidaya hingga penanganan serangan organisme pengganggu tanaman (OPT). Hal ini penting karena setiap wilayah memiliki karakteristik lahan dan permasalahan pertanian yang berbeda sehingga membutuhkan penanganan yang sesuai.
Dengan populasi tanaman yang lebih padat, potensi perkembangan hama juga perlu diwaspadai. Karena itu, setiap indikasi serangan harus segera dilaporkan agar dapat dilakukan penanganan secara cepat dan tepat. Pemanfaatan teknologi, termasuk penggunaan drone untuk pengendalian hama, juga menjadi salah satu alternatif yang dapat diterapkan.
Selain itu, aspek pemupukan turut menjadi perhatian. Penggunaan pupuk anorganik perlu diimbangi dengan pemberian bahan organik agar kondisi tanah dan pertumbuhan tanaman tetap terjaga. Penambahan unsur silika juga dapat dilakukan untuk memperkuat batang tanaman sehingga lebih tahan terhadap risiko rebah.
Pada sesi diskusi teknis, turut dibahas kondisi tanaman yang mengalami perubahan warna menjadi kekuningan. Rusmin Djamir selaku narasumber menyebutkan salah satu faktor yang disoroti adalah kemungkinan kelebihan unsur besi pada tanah. Sebagai alternatif penanganan, disampaikan perlunya penghamburan bahan organik diatas permukaan tanah sebelum proses pengolahan tanah menggunakan rotary, untuk memperbaiki kualitas dan struktur tanah serta meningkatkan aktivitas mikroorganisme.
Melalui kegiatan ini, diharapkan petani semakin memahami penerapan teknologi budidaya yang tepat, mampu mengenali permasalahan tanaman sejak dini, serta mengoptimalkan potensi lahan yang tersedia. Kolaborasi antara Kementerian Pertanian, pemerintah daerah, penyuluh, dan kelompok tani diharapkan terus diperkuat agar inovasi pertanian dapat diterapkan secara berkelanjutan dan memberikan kontribusi nyata terhadap peningkatan produksi serta terwujudnya swasembada pangan nasional.
Terima kasih telah membaca artikel kami. Kami ingin mengajak Anda untuk terus menjelajahi dan memperdalam pengetahuan Anda. Temukan berita terbaru dan artikel bermanfaat dengan mengklik tautan berikut "Klik di sini".
Jurnalis: Novia Eka Rahayu