BRMP Kick-Off Tanam Padi Modern "PM AAS" di Maros
Maros, (26/4) – Kementerian Pertanian (Kementan) terus mengakselerasi transformasi sektor agraris melalui mekanisasi tingkat tinggi. Sebagai aksi nyata, Badan Perakitan dan Modernisasi Pertanian (BRMP) resmi menggelar tanam padi perdana menggunakan model Pertanian Modern Advanced Agriculture System (PM–AAS) di Kecamatan Lau, Kabupaten Maros, Sulawesi Selatan, pada Minggu (26/4).
Langkah ini merupakan respons strategis pemerintah terhadap tantangan kelangkaan tenaga kerja serta kebutuhan akan proses budi daya yang lebih presisi, efisien, dan efektif di era digital.
Sinergi Tabela dan Drone, Efisiensi Tanpa Batas
Inti dari sistem PM–AAS ini adalah pengadopsian teknologi Tabela (Tanam Benih Langsung) yang diintegrasikan dengan penggunaan drone. Inovasi ini mengubah teknik tanam konvensional menjadi ekosistem yang jauh lebih hemat biaya dan waktu:
- Tabela Mekanis: Memungkinkan petani menanam benih secara langsung tanpa melalui proses penyemaian dan pindah tanam (transplanting). Hasilnya, durasi masa tanam terpangkas signifikan dan biaya upah tenaga kerja—yang biasanya mendominasi modal usaha tani—bisa ditekan serendah mungkin.
- Drone Pertanian: Berperan sebagai "mata di langit" untuk pemetaan lahan dan pemantauan kesehatan tanaman secara real-time. Selain itu, drone bertindak sebagai alat eksekusi presisi untuk penyebaran benih dan pemupukan cair yang merata.
Lompatan Produksi, Lipat Gandakan Hasil Panen
Melalui PM–AAS, Kementan menargetkan lompatan produktivitas yang luar biasa. Saat ini, rata-rata produktivitas nasional berada di kisaran 5,2 ton per hektare. Dengan penerapan teknologi ini, hasil panen diharapkan mampu meningkat hingga lebih dari 10 ton per hektare.
Optimisme ini bukan tanpa alasan. Pada uji coba tahun 2025 di Kabupaten Soppeng, produktivitas padi berhasil menyentuh angka 10,4 ton per hektare. Saat ini, program tersebut telah dikembangkan di lahan seluas 100 hektare yang tersebar di 14 provinsi. Khusus di Sulawesi Selatan, uji coba berlangsung di empat kabupaten penyangga pangan: Maros, Sidrap, Soppeng, dan Bone.
Benteng Menghadapi El Nino dan Perubahan Iklim
Menyadari adanya ancaman fenomena El Nino, BRMP juga menyertakan teknologi mitigasi iklim. Kepala Badan Perakitan dan Modernisasi Pertanian, Fadjry Djufry, menyatakan bahwa pihaknya telah menyiapkan alat pengukur ketinggian air otomatis.
"Teknologi ini memungkinkan efisiensi pengairan yang luar biasa sekaligus mengantisipasi dampak kekeringan secara dini," jelas Fadjry. Selain sensor air, penggunaan varietas unggul hibrida yang toleran terhadap lahan kering menjadi kunci keberhasilan budidaya di tengah tantangan cuaca ekstrem.
Regenerasi Petani melalui "Brigade Pangan"
Transformasi ini tidak hanya bicara soal angka produksi, tetapi juga keberlanjutan profesi petani. Dengan sistem yang serba teknologi, Kementan berharap dapat menarik minat generasi milenial dan Gen Z untuk bergabung dalam Brigade Pangan.
Sinergi antara teknologi tepat guna dan semangat modernisasi ini menjadi pilar utama dalam mewujudkan swasembada pangan nasional yang kompetitif di kancah global. Kolaborasi antara kekuatan teknologi dari BRMP dan manajemen lapangan yang modern memastikan Indonesia tetap tegak berdaulat pangan.
Terima kasih telah membaca artikel kami. Kami ingin mengajak Anda untuk terus menjelajahi dan memperdalam pengetahuan Anda. Temukan berita terbaru dan artikel bermanfaat dengan mengklik tautan berikut "Klik di sini".
Jurnalis: Muchammad Fatchur Rizza