Diversifikasi dan Hilirisasi Pangan Lokal untuk Kurangi Pangan Ultraproses
Maros, (21/9) – Kekayaan pangan lokal Indonesia menyimpan potensi besar untuk menyokong kesehatan masyarakat sekaligus memperkokoh kedaulatan pangan nasional. Namun, pemanfaatan potensi tersebut dinilai belum optimal akibat tingginya ketergantungan masyarakat terhadap produk pangan olahan modern (ultra-processed food) dan komoditas impor.
Hal tersebut ditegaskan oleh Dosen Program Studi Teknologi Pangan Universitas Muhammadiyah (UM) Bandung sekaligus Ketua Halal Center UM Bandung, Dr. Saepul Adnan, M.Si., saat menjadi narasumber dalam Gerakan Subuh Mengaji (GSM) Aisyiyah Jawa Barat pada Rabu, 1 Juli 2026.
Menurut Saepul, Indonesia sebagai negara megabiodiversitas memiliki kekayaan ragam sumber pangan di berbagai daerah. Sayangnya, ada kecenderungan masyarakat mulai meninggalkan pangan tradisional dan beralih ke makanan industri yang mengalami banyak tahap pemrosesan.
"Semakin jauh makanan dari bentuk aslinya, semakin besar pula risiko kesehatan yang perlu kita waspadai. Oleh karena itu, sudah saatnya kita kembali mengenal dan mencintai pangan lokal," papar Saepul.
Ia menambahkan, di saat masyarakat Indonesia mulai mengesampingkan komoditas lokal, negara-negara luar justru sedang gencar mengembangkan tren artisan food, ayaitu produk pangan alami dengan bahan baku berkualitas tinggi dan minim pemrosesan kimiawi.
Manfaat Fungsional Hanjeli hingga Umbi-Umbian
Saepul menilai diversifikasi pangan menjadi langkah krusial untuk memperbaiki pola konsumsi masyarakat yang selama ini terfokus pada beras. Indonesia memiliki deretan alternatif bahan pangan bergizi tinggi yang melimpah, seperti hanjeli, sorgum, ganyong, gadung, porang, umbi garut, hingga gembili.
Khusus di Jawa Barat, potensi variasi pangan lokal sangat melimpah dari wilayah pesisir hingga pegunungan. Selain pemenuhan nutrisi, komoditas lokal ini memiliki manfaat fungsional bagi kesehatan:
- Gadung: Mengandung senyawa bioaktif yang berpotensi sebagai antioksidan, antidiabetes, dan antiinflamasi setelah melalui pengolahan yang tepat.
- Ganyong: Kaya akan serat dan amilosa tinggi yang membantu mengontrol kadar gula darah.
- Umbi Garut: Berpotensi diolah menjadi beras analog berindeks glikemik rendah bagi penderita diabetes.
- Gembili: Mengandung zat prebiotik seperti inulin dan glukomanan untuk menjaga kesehatan pencernaan.
Hilirisasi Pangan Lokal Berbasis UMKM dan Lembaga Riset
Guna menjawab tantangan hilirisasi, Saepul menegaskan bahwa pengembangan industri pangan lokal tidak harus selalu bertumpu pada pabrik berskala besar. Pengembangan dapat dimulai dari rantai usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM), komunitas lokal, hingga kerja sama antardaerah.
"Kuncinya adalah bagaimana produk pangan lokal diberi nilai tambah, terjamin kemanan dan kualitasnya, serta dapat diterima oleh masyarakat modern tanpa kehilangan identitas budayanya," terangnya.
Sebagai wujud komitmen nyata, UM Bandung telah menghadirkan Teaching Factory sebagai laboratorium riset dan inovasi produk pangan lokal. Berbagai produk komersial berbasis hasil riset terus dikembangkan, seperti roti hanjeli, olahan berbasis sorgum, hingga inovasi tepung umbi-umbian lokal.
Selanjutnya, sinergi antara perguruan tinggi dan Balai Perakitan Pengujian Tanaman Serealia (BRMP Serealia) sebagai lembaga riset teknologi serta masyarakat sebagai mitra produksi diharapkan menjadi modal utama untuk melahirkan generasi unggul Indonesia yang sehat melalui asupan pangan bergizi berbasis kedaulatan negeri sendiri.
Terima kasih telah membaca artikel kami. Kami ingin mengajak Anda untuk terus menjelajahi dan memperdalam pengetahuan Anda. Temukan berita terbaru dan artikel bermanfaat dengan mengklik tautan berikut "Klik di sini".
Artikel ini ditulis berdasarkan rilis pada Suara Muhammadiyah berjudul "Pangan Ultraolahan Mengancam, UM Bandung Dorong Hilirisasi Pangan Lokal."